Blog ini merupakan media pendukung pemerintahan Indonesia Baru di bawah kepemimpinan Jokowi-JK
Sunday, July 20, 2014

Prabowo-Hatta Dinilai Lancarkan Strategi Hitam

Prabowo-Hatta Dinilai Lancarkan Strategi Hitam
Dalam artikel ini saya ingin membagikan info teraktual mengenai Prabowo-Hatta Dinilai Lancarkan Strategi Hitam

Sebagaimana telah diketahui bersama, permintaan tim pasangan capres-cawapres Prabowo-Hatta untuk menunda rekapitulasi suara pemilihan presiden secara nasional dinilai sebagai bagian dari strategi hitam untuk menghalau potensi kemenangan lawan yang sejauh ini telah unggul serta tidak mengedepankan kepentingan bangsa

"Usulan tersebut tidak memiliki dasar yang kuat dan cenderung menghancurkan tataran proses yang tengah berlangsung. Selain tidak berdasar pada kepentingan bangsa secara terintegral, usulan tersebut adalah bagian dari strategi hitam menghalau potensi kemenangan lawan, yang sejauh ini sudah unggul," ungkap Muradi selaku pengajar ilmu politik dan pemerintahan Universitas Padjajaran beberapa waktu lalu


Prabowo-Hatta Dinilai Lancarkan Strategi Hitam
Muradi juga menilai bahwa usulan penundaan justru menunjukkan bahwa kubu Prabowo-Hatta tidak siap menerima konsekuensi dari kontestasi pesta demokrasi serta memiliki sarat kepentingan, diantaranya kepentingan untuk menciptakan ketidakpastian politik, mengingat klimaks proses politik yang tengah berlangsung seharusnya terjadi saat pengumuman rekapitulasi nasional Pilpres 2014 di Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada tanggal 22 Juli 2014

Muradi menambahkan bahwa permintaan penundaan rekapitulasi suara nasional berpotensi membuka manuver politik baru yang semakin memperkeruh suasana serta mengindikasikan adanya upaya untuk mengulur-ulur waktu agar publik jenuh sehingga tidak lagi terjaga dalam mengawal proses politik

"Agar publik yang berintegrasi dalam bentuk relawan selama proses pilpres tersebut pada akhirnya mengalami fase kejenuhan, sehingga antusiasme tidak lagi terjaga dalam mengawal proses politik," lanjut Muradi


Prabowo-Hatta Dinilai Lancarkan Strategi Hitam
Sebelumnya diberitakan bahwa kubu Prabowo-Hatta meminta kepada Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk menunda rekapitulasi nasional Pilpres 2014 dengan alasan proses rekapitulasi di daerah-daerah masih bermasalah, dimana rekapitulasi tingkat nasional akan dilakukan dari tanggal 20-22 Juli 2014 dan hasilnya akan diumumkan pada tanggal 22 Juli 2014

Dalam UU Nomor 42 tahun 2008 tentang Pilpres pasal 158 ayat 1 disebutkan bahwa Komisi Pemilihan Umum (KPU) menetapkan hasil rekapitulasi penghitungan suara dan mengumumkan hasil Pilpres dalam sidang pleno terbuka yang dihadiri oleh Pasangan Calon dan Bawaslu

Dalam ayat 2 disebutkan bahwa penetapan sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dilakukan paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak hari pemungutan suara

By: Lay Cao Lay
Saturday, July 19, 2014

Instruksi Tim Pemenangan Jokowi-JK untuk 22 Juli 2014

Instruksi Tim Pemenangan Jokowi-JK untuk 22 Juli 2014
Dalam artikel ini saya ingin membagikan info teraktual mengenai Instruksi Tim Pemenangan Jokowi-JK untuk 22 Juli 2014

Sebagaimana telah diketahui bersama, Tim Pemenangan Jokowi-JK telah memberikan intruksi khusus bagi pengurus serta kader partai pendukungnya untuk tidak turun ke jalan pada 22 Juli 2014 dan juga dilarang datang ke kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) di jalan Imam Bonjol, Menteng, Jakarta Pusat saat penetapan hasil akhir Pilpres 2014


Instruksi Tim Pemenangan Jokowi-JK untuk 22 Juli 2014
"Kepada struktural partai dilarang keras turun ke jalan dalam merayakan kemenangan capres Bapak Jokowi dan cawapres Bapak Jusuf Kalla," ungkap Tjahjo Kumolo selaku Ketua Tim Pemenangan Jokowi-JK dalam pesan singkat yang diteruskan kepada wartawan beberapa waktu lalu

Larangan tersebut dilakukan untuk menjaga kondusifitas serta stabilitas, dimana Tjahjo Kumolo menegaskan bahwa pihaknya mendukung kinerja Polri untuk pengamanan

"Khususnya tanggal 22 Juli dilarang datang ke kantor KPU, prinsipnya kita tetap siap siaga mendukung POLRI dalam menjaga KamtibMas khususnya saat rekapitulasi suara Nasional oleh KPU," lanjut Sekjen PDI Perjuangan tersebut

Instruksi tersebut beliau kirimkan ke Sekjen partai pendukung serta penghubung partai Tim Jokowi-JK dan beliau juga meminta info tersebut diteruskan ke ketua partai di tingkat provinsi serta kabupaten/kota


Instruksi Tim Pemenangan Jokowi-JK untuk 22 Juli 2014
Sebagai info tambahan, penetapan pemenang Pilpres 2014 akan diumumkan pada tanggal 22 Juli 2014 dan Komisi Pemilihan Umum (KPU) belum memutuskan untuk mengundang kedua pasangan capres-cawapres, namun jika Komisi Pemilihan Umum (KPU)akhirnya mengundang kedua pasangan capres-cawapres tersebut, Komisi Pemilihan Umum (KPU) menghimbau kedua pasangan capres-cawapres untuk tidak mengerahkan massa.

"Kami mengimbau tidak perlu ada pengerahan massa pada proses penetapan tanggal 22 Juli nanti. Percayakan proses tersebut pada KPU, Bawaslu dan perwakilan pasangan calon yang hadir," ungkap Ferry Rizki Kurniansyah selaku Komisioner di Kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) beberapa waktu lalu

3.000 polisi akan diturunkan di beberapa titik Jl Imam Bonjol untuk mengamankan pengumuman penting Komisi Pemilihan Umum (KPU) tersebut dan sebelumnya juga beredar undangan dari pihak yang mengatasnamakan Relawan Jokowi Baju Kotak-Kotak untuk meliput aksi di Kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada hari Jumat tanggal 18 Juli 2014 lalu dan sejumlah relawan Jokowi-JK menegaskan bahwa mereka tidak pernah mengajak ataupun mengundang untuk melakukan aksi tersebut

Relawan Jokowi-JK yang membantah aksi tersebut adalah:

1) Generasi Optimis
2) Gerak Cepat
3) Projo
4) Bara JP
5) KISMI
6) Kawan Jokowi
7) Bravo 5
8) Komunitas OB (Orang Baik) di Jl Surabaya 1
9) Relawan Anies Baswedan di Ciasem
10) ReDI (Relawan Dahlan Iskan)
11) Efek Jokowi
12) Gulung lengan baju
13) Kelompok Langsat
14) Jasmev
15) Biji kopi
16) Jokowiday.com
17) Faktajokowi.com
18) Seni Kreatif for Jokowi
19) RA Cyber Team
20) Yusuf Adiwinata team
21) Duta Joko Widodo
22) Alumni PT perguruan tinggi
23) Serdadu Jokowi
24) Seknas Jokowi
25) Sahabat Jokowi
26) Jokowers
27) Pos Raya (Relawan Rakyat) yang bermarkas di Jl.Anyer, Menteng

By: Lay Cao Lay

Prabowo Kerahkan Relawan Jaga KPU 22 Juli 2014

Prabowo Kerahkan Relawan Jaga KPU 22 Juli 2014
Dalam artikel ini saya ingin membagikan info teraktual mengenai Prabowo Kerahkan Relawan Jaga KPU 22 Juli 2014

Sebagaimana telah diketahui bersama, Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Husni Kamil Manik mengungkapkan bahwa pengamanan kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) sudah cukup dilakukan dengan petugas keamanan internal serta aparat kepolisian untuk pengumuman hasil akhir Pilpres 22 Juli 2014 dan sekaligus menanggapi rencana dikerahkannya 5.000 relawan Prabowo-Hatta ke kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada tanggal 22 Juli 2014 untuk menjaga Komisi Pemilihan Umum (KPU) dari antisipasi kerusuhan

"KPU itu kan sudah punya standar sendiri, keamanan internal dan di luar serta kepolisian. Kepolisian pun punya standar keamanan," ujar Husni Kamil Manik seusai melakukan pertemuan dengan pimpinan lembaga negara di Mahkamah Konstitusi (MK) beberapa waktu lalu

Husni Kamil Manik menambahkan bahwa masyarakat yang ingin berpartisipasi dapat melakukan berbagai macam bentuk, namun Komisi Pemilihan Umum (KPU) tidak berhak menentukan bentuk partisipasi apa yang terbaik dari masyarakat serta berharap agar seluruh pihak turut menjaga proses rekapitulasi suara secara nasional

"Kami berharap proses rekapitulasi bisa berjalan denga lancar sesuai dengan jadwal yang sudah ditetapkan dan hasilnya juga bisa diterima semua pihak," lanjut Husni Kamil Manik

Husni Kamil Manik selanjutnya menyatakan bahwa Komisi Pemilihan Umum (KPU) sudah sering menghimbau kepada para kandidat capres dan cawapres untuk menjaga situasi tetap kondusif serta selalu melibatkan tim pasangan capres-cawapres untuk terlibat dalam proses yang telah berjalan


Prabowo Kerahkan Relawan Jaga KPU 22 Juli 2014
Sebagai info tambahan, 5000 relawan Prabowo-Hatta akan dikerahkan untuk menjaga Komisi Pemilihan Umum (KPU) saat pengumuman rekapitulasi Pemilu Presiden 2014 pada 22 Juli 2014, dimana menurut Letjen TNI (Purn) Yunus Yosfiah selaku anggota Dewan Penasihat Tim Pemenangan Prabowo-Hatta, dikerahkannya 5000 relawan Prabowo-Hatta tersebut bukan untuk menimbulkan kerusuhan, namun justru untuk menjaga suasana damai serta kondusif

"Kami menempatkan personel di KPU saat pengumuman nanti agar tercipta suasana aman dan KPU tidak merasa terintimidasi," ungkap Letjen TNI (Purn) Yunus Yosfiah seusai Apel Siaga Relawan Prabowo-Hatta di kawasan Taman Mini Indonesia Indah beberapa waktu lalu

By: Lay Cao Lay
Wednesday, July 16, 2014

Jokowi Menang di 24 Provinsi

Jokowi Menang di 24 Provinsi
Dalam artikel ini saya ingin membagikan info teraktual mengenai Jokowi Menang di 24 Provinsi

Sebagaimana telah diketahui bersama, Tim Pemenangan Jokowi-JK melakukan real count perolehan suara Pilpres 2014, dimana berdasarkan data yang masuk di atas 92 persen formulir C1, asilnya pasangan Jokowi-JK unggul di 24 provinsi.

"Kita menang di 24 provinsi berdasarkan suara yang masuk lebih dari 90 persen formulir C1," ujar Djarot S Hidajat selaku Koordinator Saksi Tim Pemenangan Jokowi-JK di kantor DPP Partai Nasdem di Jalan Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat beberapa waktu lalu, "Secara keseluruhan, total kemenangan Jokowi-JK sekitar 53,46 persen."

Djarot S Hidajat menambahkan bahwa pihaknya juga melakukan komparasi data secara nasional mulai dari kelurahan, kecamatan hingga tingkat provinsi

"Jenis data ini dikomparasi dan dihitung ulang secara manual, keseluruhan berdasarkan formulir A1 dan DA 1 secara berjenjang. Berdasarkan data yang masuk, beberapa provinsi Jokowi-JK menang sangat besar di atas 65 persen. Beberapa provinsi menang antara 51-59 persen,dan di beberapa provinsi Jokowi JK kekurangan suara secara signifikan," ungkap Djarot S Hidajat

Di bawah ini merupakan data perolehan suara yang dilakukan Tim Pemenangan Jokowi-JK dengan format daerah, Prabowo-Hatta dan Jokowi-JK (dalam persen)


No Daerah Prabowo-Hatta (%) Jokowi-JK (%)
1 Aceh 55,45 44,55
2 Bali 28,64 71,36
3 Banten 57,00 43,00
4 Bengkulu 45,33 54,67
5 DIY 44,17 55,83
6 DKI 46,54 53,46
7 Gorontalo 63,04 36,96
8 Jambi 49,20 50,80
9 Jabar 59,09 40,91
10 Jateng 33,37 66,63
11 Jatim 46,95 53,05
12 Kalbar 39,86 60,14
13 Kalsel 49,95 50,05
14 Kalteng 41,44 58,56
15 Kaltim 36,69 63,31
16 Bangka Belitung 32,86 67,14
17 Kepri 41,50 58,50
18 Lampung 47,38 52,62
19 Maluku 47,79 52,21
20 Maluku Utara 54,00 46,00
21 NTB 71,95 28,05
22 NTT 33,93 66,07
23 Papua 29,95 70,05
24 Papua Barat 40,97 59,03
25 Riau 49,97 50,03
26 Sulbar 26,70 73,30
27 Sulsel 27,29 72,71
28 Sulteng 45,82 54,18
29 Sultra 55,90 44,10
30 Sulut 46,00 54,00
31 Sumbar 74,97 25,03
32 Sumsel 51,27 48,73
33 Sumut 44,82 55,18


By: Lay Cao Lay
Tuesday, July 15, 2014

Real Count Pilpres 2014

Real Count Pilpres 2014
Dalam artikel ini saya ingin membagikan info teraktual mengenai hasil Real Count Pilpres 2014 yang dirilis oleh situs Kawal Pemilu dan bukan merupakan website resmi KPU

Data yang tertera dalam situs Kawal Pemilu tersebut berasal dari scan form C1 yang dirilis website resmi KPU serta didigitisasi dengan bantuan relawan. Data yang tertera belum final dan terus diperbaharui setiap 10 menit

Kolom Tersedia berisi TPS yang datanya sudah diambil dari website KPU pada update terakhir, kolom Prosentase berisi jumlah prosentase terhadap jumlah total TPS dan total TPS sedikit berbeda dengan total TPS di website resmi KPU, karena ada TPS yang belum terunduh dengan sempurna dan akan diperbaiki secepatnya

Kolom Diproses berisi TPS yang datanya sudah didigitisasi oleh relawan dan juga jumlah prosentase terhadap TPS Tersedia

Kolom Error berisi jumlah TPS yang telah ditandai karena mengalami kesalahan form C1, kesalahan scan maupun kesalahan input

Untuk info selengkapnya, silahkan lihat hasil real count Pilpres 2014 di bawah ini dan untuk melihat kolom-kolom di sebelah kanan, tekan tombol scroll yang berada di antara tombol kiri dan tombol kanan, lalu arahkan ke kanan (untuk versi desktop) atau lekatkan jari Anda di dalam hasil real count Pilpres 2014, lalu scroll ke sebelah kiri (untuk versi Tab ataupun smartphone dengan touchscreen)



By: Lay Cao Lay
Monday, July 14, 2014

Prabowo Subianto di Mata Lee Kuan Yew

Prabowo Subianto di Mata Lee Kuan Yew
Dalam artikel ini saya ingin membagikan info teraktual mengenai Prabowo Subianto di Mata Lee Kuan Yew

Lee Kuan Yew dikenal sebagai seorang arsitek pembangunan Singapura dan hingga saat ini beliau tampak masih sehat untuk ukuran orang seusia beliau, dimana pikirannya masih tajam serta jauh dari kesan pikun dan ucapannya lancar meski usianya sudah 90 tahun. Ir. Ciputra (salah satu pebisnis properti terkenal Indonesia) dalam suatu kesempatan pernah menceritakan kekaguman beliau kepada Lee Kuan Yew yang sangat brilian dalam membangun negeri pulau sekecil Temasek tersebut menjadi Singapura yang super makmur dan selalu menjadikan Lee Kuan Yew sebagai salah satu contoh seorang politisi serta birokrat yang memiliki jiwa entrepreneurship yang tinggi. Terakhir kali Ir. Ciputra hendak menemui Lee Kuan Yew saat mengunjungi Singapura untuk menerima penghargaan dari stasiun TV Channel News Asia bulan Maret tahun 2013 lalu, namun saat itu Lee Kuan Yew sedang didera sakit lutut

"Jangan terlalu banyak olahraga naik sepeda statis." kata Ir. Ciputra sambil menyarankan kepada Lee Kuan Yew untuk berolahraga renang yang lebih aman untuk persendian, karena olahraga renang minim hentakan


Prabowo Subianto di Mata Lee Kuan Yew
Sebagai negarawan terkenal yang bertetangga dengan Indonesia, Lee Kuan Yew seringkali bertemu dengan sejumlah tokoh penting dalam percaturan politik Indonesia dan salah satu yang beliau bahas dalam memoarnya "From Third World to First- The Singapore Story (1965-2000)" ialah capres Partai Gerindra Prabowo Subianto

Dalam memoar tebal tersebut, Lee Kuan Yew mendedikasikan satu bab berjudul "Indonesia: From Foe to Friend" dengan 3 halaman yang mennceritakan capres Partai Gerindra Prabowo Subianto. Di halaman 312, Lee Kuan Yew menyebut Prabowo Subianto sebagai "komandan Kopassus" dan tidak banyak cerita di halaman tersebut, karena Lee Kuan Yew lebih mengarahkan perhatiannya kepada Titiek Soeharto (mantan istri Prabowo Subianto) yang menemui Lee Kuan Yew pada tanggal 9 Januari 1998 lalu dengan misi mendapatkan bantuan dari Singapura dalam upaya mengumpulkan dana melalui surat utang (bond) dalam mata uang dollar Amerika Serikat di Singapura dan saat itu Lee Kuan Yew menolak, karena meski beliau mau melakukannya, langkah tersebut tidak akan efektif dalam upaya menyelamatkan rupiah yang anjlok. Titiek Soeharto berdalih bahwa ada isu dari Singapura yang melemahkan rupiah tahun 1998 serta menuduh bankir-bankir Singapura mendorong orang Indonesia menyimpan uang di negeri seberang. Lee Kuan Yew saat itu menyarankan Titiek Soeharto dan ayahnya untuk berkonsultasi dengan Paul Volcker (mantan pimpinan Bank Sentral Amerika Serikat (Federal Reserve)), namun nasihatnya tidak digubris, dimana Paul Volcker saat itu diundang ke Jakarta untuk bertemu dengan Soeharto, namun tidak diangkat sebagai penasihat

Di halaman 316, Lee Kuan Yew mulai berbicara mengenai kepribadian Prabowo Subianto di mata Soeharto yang dianggap cerdas dan ambisius namun impulsif dan gegabah dan di bawah ini merupakan kutipan dari halaman tersebut

"The most grievous error of all was his balancing act in appointing General Wiranto as chief of the armed forces while promoting his son-in-law Prabowo Subianto to be liutenant-general and chief of Kostrad (the Strategic Forces). He knew that Prabowo was bright and ambitious, but impetuous and rash." (From From Third World to First- The Singapore Story (1965-2000), p.316)


Prabowo Subianto di Mata Lee Kuan Yew
Sebagai informasi tambahan, Jendral TNI (Purn) Wiranto juga mengajukan diri sebagai calon presiden, namun gagal di tengah jalan, sehingga dengan mengingat sejarah permusuhannya dengan Prabowo Subianto tersebut, Partai Hanura ‎merapat ke kubu Jokowi dan Anda dapat baca di situs resmi Wiranto.com, dimana dukungan pada Jokowi dan Jusuf Kalla (JK) tampak sangat kental. Langkah Jendral TNI (Purn) Wiranto dapat dikatakan cukup jitu dan membuat Partai Hanura lebih aman dan meski pergulatan dengan pihak Prabowo-Hatta akan jauh lebih alot, namun setidaknya Jendral TNI (Purn) Wiranto dan Partai Hanura mendukung Jokowi yang dielu-elukan para investor dalam negeri maupun luar negeri

Prabowo Subianto di Mata Lee Kuan Yew
Lee Kuan Yew seolah-olah mengetahui bahwa Soeharto membuat kesalahan besar dengan mengangkat Wiranto dan Prabowo Subianto secara bersamaan di dua posisi puncak militer Indonesia, namun Soeharto tetap melakukannya, entah karena desakan Titiek Soeharto ataukah status Prabowo Subianto sebagai menantu ataukah Soeharto masih berharap Prabowo Subianto dapat berubah menjadi pribadi yang lebih matang dan bijak. Penggunaan kata "grievous" mengacu pada sesuatu yang berakibat serius serta menimbulkan penderitaan atau rasa sakit yang hebat (Longman Dictionary of Contemporary English, hal 172) dan penekanannya tergolong berat, karena disandingkan dengan kata "error", dimana saat itu mungkin saja Soeharto sedang bertindak gegabah juga saat mengangkat Prabowo Subianto

Dalam alinea selanjutnya, Lee Kuan Yew menjelaskan bahwa beliau pernah bertemu dengan Prabowo Subianto dalam dua acara makan siang di Jakarta, yaitu pada tahun 1996 dan 1997 ‎sebelum kejatuhan Soeharto bulan Mei 1998. Kali ini Lee Kuan Yew tidak segan-segan untuk mengutarakan pendapat pribadi beliau mengenai kepribadian Prabowo Subianto menurut pengamatannya

"He was quick but inappropriate in his outspokenness," tulis Lee Kuan Yew di halaman 316

Kata "quick" menurut Longman Dictionary of Contemporary English dapat membawa banyak makna jika kita membicarakan perangai seseorang, diantaranya "cekatan" (moving or doing something fast) atau "pandai", karena mampu belajar dan memahami dengan cepat (able to learn and understand things fast) dan juga bisa berarti "cepat naik darah", seperti "have a quick temper" yang artinya "to get angry very easily". Entah makna mana yang hendak disampaikan Lee Kuan Yew tersebut, namun Anda bisa memperkirakan secara logis dengan mengamati tindak-tanduk serta cara bicara Prabowo Subianto selama beliau tampil di depan publik


Prabowo Subianto di Mata Lee Kuan Yew
Lee Kuan Yew menangkap sinyal aneh dari Prabowo Subianto yang menemui beliau serta Goh Chok Tong (Perdana Mentri Singapura saat itu) secara terpisah pada tanggal 7 Februari 1998, dimana Prabowo Subianto saat itu menyampaikan sebuah pesan yang aneh, yaitu peringatan singkat mengenai risiko yang dihadapi etnis Tionghoa di Indonesia, karena jika ada hal yang tidak diinginkan terjadi, seperti kerusuhan, mereka akan terluka sebagai kaum minoritas

Prabowo Subianto di Mata Lee Kuan Yew
Jendral baret merah tersebut juga menyebutkan pengusaha Sofyan Wanandi (Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia 2008- 2013) dalam percakapan dengan dua tokoh Singapura tersebut, dimana Sofyan Wanandi yang merupakan salah seorang keturunan Tionghoa (meski secara de facto lahir di Sawahlunto‎, Sumatra Barat) tersebut benar-benar berada dalam risiko tinggi, karena statusnya sebagai minoritas ganda (seorang dengan darah keturunan Tionghoa dan berkeyakinan Katholik) serta sosok yang kritis dan vokal terhadap status quo saat itu. Sofyan Wanandi merupakan mantan aktivis 1966 dengan pengalaman segudang di bidang ekonomi, birokrasi dan politik yang membuat beliau menjadi seorang minoritas dengan keberanian yang luar biasa untuk menyuarakan aspirasi diri dan etnis Tionghoa

Prabowo Subianto di Mata Lee Kuan Yew
Masih di halaman 316, Lee Kuan Yew mengutip perkataan Prabowo Subianto bahwa Sofyan Wanandi berkata pada Prabowo Subianto serta sejumlah jenderal lainnya bahwa Soeharto (yang saat itu masih berkuasa) harus turun tahta. dan juga berusaha meyakinkan Lee Kuan Yew bahwa Sofyan Wanandi benar-benar mengatakan hal tersebut. Menurut Prabowo Subianto, pernyataan tersebut dapat membahayakan kelompok Katholik yang berdarah Tionghoa di Indonesia. Mendengar penjelasan Prabowo Subianto, Goh Chok Tong dan Lee Kuan Yew menjadi bingung yang digambarkan dalam kutipan di bawah ini

"Both the Prime Minister and I puzzled over why he should want to tell us this about Sofyan when it was patently unlikely that any Indonesian would tell the president’s son-in-law that the president should be forced to step down. We wondered if he was preparing us for something that would happen soon to Sofyan and other Chinese Indonesian businessmen." (From From Third World to First- The Singapore Story (1965-2000), p. 317)

Hal tersebut sama sekali tidak masuk akal. Mengapa Sofyan Wanandi yang jelas-jelas bukan orang bodoh dan merupakan bagian dari minoritas Tionghoa Katholik berani mengatakan ancaman kudeta tersebut kepada seorang jenderal yang juga berstatus menantu Presiden yang masih berkuasa? Bukankah itu seperti upaya bunuh diri? Mengapa Sofyan Wanandi yang sudah berada dalam bahaya malah mengeluarkan pernyataan semacam itu?

Tidak ada yang dapat mengklarifikasi pernyataan Lee Kuan Yew tersebut, kecuali Goh Chok Tong ataupun Prabowo Subianto sendiri (jika beliau mau buka mulut mengungkapkan isi percakapan mereka tersebut) dan hal tersebut kemungkinan besar tidak akan pernah terjadi

Sampai di sini, kita dapat berspekulasi: siapa yang berbohong dan apa motifnya? Di samping semua hal ganjil tersebut, satu hal yang menggelikan ialah Prabowo Subianto saat itu lupa bahwa Goh Chok Tong dan Lee Kuan Yew juga orang Tionghoa, meski bukan pemeluk Katholik

Dalam sebuah wawancara dengan The New York Times, Lee Kuan Yew menyatakan bahwa dirinya merupakan seorang agnostik yang yakin bahwa tidak ada yang bisa diketahui mengenai keberadaan, sifat Tuhan atau apapun selain fenomena material dan juga seseorang yang menyatakan dirinya bukan pemeluk agama tertentu namun juga tidak menyatakan ketiadaan Tuhan). Meski begitu, ada persamaan antara Lee Kuan Yew serta Sofyan Wanandi dan Prabowo Subianto saat itu memiliki agenda tersembunyi yang hanya diketahui Tuhan dan Prabowo Subianto sendiri


Prabowo Subianto di Mata Lee Kuan Yew
Lee Kuan Yew melanjutkan narasinya tersebut dengan menngungkap peristiwa tanggal 9 Mei 1998, saat Admiral William Owens (seorang pensiunan wakil pimpinan US Joint Chiefs of Staff ) menemui Lee Kuan Yew di Singapura, dimana William Owens juga mengendus keganjilan yang juga dirasakan Lee Kuan Yew dalam diri Prabowo Subianto. William Owens mengungkapkan kepada Lee Kuan Yew bahwa dirinya bertemu dengan Prabowo Subianto di Jakarta pada tanggal 8 Mei 1998 dan selama makan siang, keduanya didampingi oleh dua ajudan muda bawahan Prabowo Subianto yang berpangkat letnan kolonel dan satu satu diantaranya ialah seorang dokter. William Owens mendengar sendiri bahwa Prabowo Subianto menyatakan dengan penuh keyakinan, "Sang pria tua mungkin tidak akan bertahan hingga 9 bulan, mungkin ia akan meninggal dunia!" dan pria tua yang Prabowo Subianto maksud kemungkinan besar ialah Soeharto (ayah mertuanya dan sekaligus ayah kandung Titiek Soeharto) yang masih berkuasa saat itu. Lee Kuan Yew melanjutkan penuturan William Owens yang melihat aura kebahagiaan dalam ekspresi serta air muka Prabowo Subianto yang saat itu baru saja diangkat menjadi Pangkostrad dengan pangkat Letnan Jendral, sebagaimana dikutip di bawah ini

"In a happy mood, celebrating his promotion to three stars and head of Kostrad, he joked about talk going around that he himself might attempt a coup. Owens said that although Prabowo had known him for two years, he was nonetheless a foreigner. I said Prabowo had a reckless streak in him." (From From Third World to First- The Singapore Story (1965-2000), p. 317)


Prabowo Subianto di Mata Lee Kuan Yew
Kita bisa garisbawahi kata "a coup" yang ditulis Lee Kuan Yew tersebut. Apakah lelucon kudeta tersebut merupakan semacam isyarat dari alam bawah sadar Prabowo Subianto yang tiba-tiba muncul keluar tak terkendali dari mulutnya?

Sekali lagi, Lee Kuan Yew menegaskan karakter Prabowo Subianto, dimana sebelumnya Lee Kuan Yew tahu Soeharto berpikir bahwa Prabowo Subianto seorang yang sembrono

"He knew that Prabowo was bright and ambitious, but impetuous and rash." (From From Third World to First- The Singapore Story (1965-2000), p.316)

Lee Kuan Yew seolah-olah menyetujui penilaian Soeharto tersebut dengan menuliskan "I said Prabowo had a reckless streak in him." (From From Third World to First- The Singapore Story (1965-2000), p.317) dan menurut Google Dictionary, kata "reckless" dapat diterjemahkan sebagai "tanpa berpikir atau peduli atau mempertimbangkan konsekuensi sebuah tindakan" (without thinking or caring about the consequences of an action)


Prabowo Subianto di Mata Lee Kuan Yew
Pada tanggal 12-14 Mei 1998 meledaklah kerusuhan serta tragedi kemanusiaan yang menimpa warga etnis Tionghoa di tanah air, terutama Jakarta dan sejumlah daerah lainnya, dimana enam mahasiswa Universitas Trisakti tewas tertembus peluru pasukan anti huru-hara yang memicu kekacauan yang meluas, diantaranya penjarahan pusat-pusat perniagaan di Jakarta dan permukiman warga keturunan Tionghoa serta pemerkosaan dan pembunuhan keji terhadap para wanita etnis Tionghoa

Lee Kuan Yew menulis, "It was general knowledge that the rioting was engineered by Prabowo’s men. He wanted to show up Wiranto as incompetent, so that on Suharto’s return from Cairo, he (Prabowo Subianto) would be made chief of armed forces. By the time he returned from Cairo on 15 May, Suharto’s position was lost." (From From Third World to First- The Singapore Story (1965-2000), p. 317)


Prabowo Subianto di Mata Lee Kuan Yew
Menurut Lee Kuan Yew, sudah bukan rahasia lagi bahwa kerusuhan Mei 1998 tersebut direkayasa oleh orang-orang Prabowo Subianto dan Prabowo Subianto ingin menunjukkan kepada Soeharto bahwa pesaingnya tersebut tidak seunggul yang dikira dan juga membuktikan bahwa Wiranto sebagai Pangab saat itu lengah serta tidak berdaya menghadapi kekacauan bernuansa SARA (suku, agama, ras) tersebut. Lee Kuan Yew juga mengungkapkan bahwa misi Prabowo Subianto saat itu ialah menjadi pimpinan ABRI, namun ayah mertuanya saat itu akhirnya jatuh dari kursi kekuasaannya yang sudah dikuasai selama lebih dari 30 tahun lamanya

Menanggapi semua kejadian tragis yang menimpa pemimpin Indonesia tersebut, Lee Kuan Yew menjabarkan keprihatinannya dengan menulis, "It was an immense personal tragedy for a leader who had turned an impoverished Indonesia of 1965 into an emerging tiger economy, educated his people and built the infrastructure for Indonesia’s continued development. At this crucial moment, the man who had been so good at judging and choosing his aides had chosen the wrong men for key positions. His mistakes proved disastrous for him and his country." ( From From Third World to First- The Singapore Story (1965-2000), p. 318)


Prabowo Subianto di Mata Lee Kuan Yew
Dari penjelasan Lee Kuan Yew tersebut, jika memang benar, dapat ditarik kesimpulan bahwa Prabowo Subianto telah berkontribusi pada jatuhnya sang ayah mertua saat itu, karena kerakusannya pada kekuasaan dan berdasarkan pada asumsi tersebut, keluarga Cendana kelihatannya telah memaafkan tindakan Prabowo Subianto tersebut, karena mereka menyatakan dukungan bulat pada beliau dalam Pilpres 2014. Rasanya cukup masuk akal jika demikian adanya, karena jika beliau menjabat sebagai Presiden RI periode 2014-2019, Prabowo Subianto dapat menjadi pembuka jalan bagi dinasti Cendana dan Orde Baru untuk kembali berkuasa

Prabowo Subianto di Mata Lee Kuan Yew
Saya ingin mengakhiri artikel ini dengan pernyataan yang disampaikan Prof.Dr.Hermawan Sulistyo sebagai berikut, "Saya tidak habis pikir, kenapa orang yang terlibat dalam penculikan orang-orang di masa lalu, malah dianggap mampu membawa kedamaian dan ketentraman dalam kehidupan masyarakat ke depan? Kenapa orang yang memiliki utang trilyunan, malah dianggap mampu untuk memajukan kesejahteraan negeri ini? Kenapa orang yang dipecat dari TNI malah ingin dijadikan Panglima tertinggi di negeri ini?"

Satu pertanyaan penting yang harus dijawab, yaitu: PANTASKAH PRABOWO SUBIANTO JADI PRESIDEN RI terkait penjelasan Lee Kuan Yew mengenai Prabowo Subianto yang telah kita bahas di atas?

By: Lay Cao Lay

Plan A - Plan B - Plan C dan Plan D dari Capres No.1

Plan A - Plan B - Plan C dan Plan D dari Capres No.1
Dalam artikel ini saya ingin membagikan info teraktual mengenai Plan A - Plan B - Plan C dan Plan D dari Capres No.1

Sebagaimana telah diketahui bersama, pelaksanaan Pilpres 2014 dari masa kampanye hingga 3 hari setelah pemungutan suara terjadi banyak kejadian-kejadian yang aneh dan sepertinya merupakan suatu tindakan sistemik dalam upaya mendapatkan kemenangan dengan berbagai cara

Pola-pola berpolitik dari kubu capres-cawapres nomor urut 1 tersebut dilakukan dengan sejumlah manuver yang sangat tajam, sehingga saya secara pribadi menduga ada Plan A - Plan B - Plan C dan Plan D dari Capres No.1 tersebut, meski kebenarannya memang dugaan tersebut harus dibuktikan kebenarannya dan mungkin saja dianggap sebagai suatu asumsi strategi pemenangan Pilpres 2014


Plan A - Plan B - Plan C dan Plan D dari Capres No.1
Berawal dari setelah Partai Gerindra berhasil mengajak Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Keadilan Sejaktera (PKS) bergabung, capres Partai Gerindra Prabowo Subianto membuat langkah yang sangat strategis dengan merangkul Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Hatta Rajasa serta manjadikannya cawapres, meski beliau pernah menjabat menteri dalam 3 periode pemerintahan dan Hatta Rajasa sebenarnya tidak memiliki popularitas serta elektabilitas yang cukup. Capres Partai Gerindra Prabowo Subianto berpikir bahwa dengan merangkul Hatta Rajasa ke dalam Koalisi Merah Putih, Partai Gerindra berhasil menarik gerbong penuh milik Partai Amanat Nasional (PAN) yang berdampak pada bergabungnya Edi Baskoro (menantu Hatta Rajasa dan juga putra bungsu Jendral TNI (Purn) Susilo Bambang Yudhoyono). Saat Edi Baskoro bergabung dalam Koalisi Merah Putih, para politisi Partai Demokrat lainnya akan ikut bergabung, termasuk Jendral TNI (Purn) Pramono Edhi Wibowo (kakak kandung Ani Yudhoyono) yang benar-benar baru saja pensiun dari jabatan KSAD kurang lebih bulan Januari 2014 lalu

Plan A - Plan B - Plan C dan Plan D dari Capres No.1
Bergabungnya Jendral TNI (Purn) Pramono Edhi Wibowo sebagai mantan KSAD tersebut berdampak pada dukungan yang siginifikan dari sejumlah purnawirawan Angkatan Darat beserta keluarga mereka, dimana jumlah kalangan tersebut sebenarnya sangat banyak, termasuk FKPPI dan lain-lain. Selain itu, dengan bergabungnya Edi Baskoro, Jendral TNI (Purn) Pramono Edhi Wibowo dan sejumlah politisi Partai Demokrat lainnya membuat Jendral TNI (Purn) Susilo Bambang Yudhoyono akan berpihak kepada kubu capres-cawapres nomor 1

Dengan bergabungnya Jendral TNI (Purn) Susilo Bambang Yudhoyono, kekuatan capres Partai Gerindra Prabowo Subianto menjadi berlipat ganda, karena hampir 85 persen jajaran birokrasi dari pemerintah pusat hingga pemerintah daerah dipaksa untuk ikut berpihak kepada kubu capres-cawapres nomor 1 tersebut dan juga dukungan dari 3 partai Islam serta Partai Golkar. Kubu capres-cawapres nomor 1 hanya tinggal mengoptimalkan strategi khusus untuk melawan elektabilitas Jokowi yang begitu tinggi

Sebagai informasi tambahan, kekuatan capres Partai Gerindra Prabowo Subianto sebelum Pilpres digelar pada 9 Juli 2014 lalu diperoleh dari:

1) Dukungan 3 partai Islam beserta para ulama dan kyai yang bergabung dalam 3 partai Islam tersebut

2) Dukungan Partai Golkar sebagai partai yang hingga saat ini dianggap sebagai partai yang memiliki jaringan terkuat di Indonesia

3) Dukungan Partai Demokrat di bawah kepemimpinan Jendral TNI (Purn) Susilo Bambang Yudhoyono beserta jajaran birokrasi dari pemerintah pusat hingga pemerintah daerah

4.Dukungan dari para pemilik media, diantaranya stasiun TV One milik Aburizal Bakrie alias Ical (Ketua Umum Partai Golkar) dan grup MNC milik Harie Tanoesoedibjo

5.Dukungan keuangan yang tidak terbatas dari para konglomerat, terutama Hasyim Djojohadikusumo (adik capres Partai Gerindra Prabowo Subianto)

6.Dukungan tokoh-tokoh Islam lainnya seperti Mahfud MD, Ketua PBNU, KH.Rhoma Irama dan lain-lain

Di bawah ini kita akan membahas satu per satu Plan A - Plan B - Plan C dan Plan D dari Capres No.1 tersebut

PLAN A (RENCANA A)


Plan A - Plan B - Plan C dan Plan D dari Capres No.1
Meski telah didukung oleh berlapis-lapis kalangan, elektabilitas Jokowi masih cukup kuat, sehingga harus dilakukan sejumlah strategi khusus, yaitu upaya mendegradasi ketokohan Jokowi dengan menyebar kampanye hitam (black campaign) seperti Tabloid Obor Rakyat, Tabloid Martabat dan Tabloid Sapu Jagad yang membuat sejumlah opini palsu ke masyarakat bahwa Jokowi dikendalikan oleh kaum Nasrani

Upaya tersebut ternyata sangat efektif dalam mendegradasi elektabilitas Jokowi, terbukti pada saat 2 minggu sebelum hari H, elektabilitas capres Partai Gerindra Prabowo Subianto meroket tajam dan hampir menyamai elektabilitas Jokowi, namun akhirnya terkuak fakta bahwa pembuat Tabloid Obor Rakyat adalah Darmawan Sepriossa yang berafiliasi dengan Partai Keadilan Sejaktera (PKS) dan Setiyardi yang berafiliasi dengan Partai Demokrat yang saat ini telah menjadi tersangka oleh pihak kepolisian, dimana sehari sebelum hari H, ribuan Tabloid Obor Rakyat ditemukan di markas pemenangan capres Partai Gerindra Prabowo Subianto di Semarang yang merupakan kantor Partai Gerindra.

PLAN B (RENCANA B)


Plan A - Plan B - Plan C dan Plan D dari Capres No.1
Pada hari pencoblosan, yaitu tanggal 9 Juli 2014, kubu capres-cawapres nomor 1 melancarkan strategi lainnya, yaitu dengan mengacaukan suasana kondusif Pilpres 2014 serta menebar sejumlah opini yang meresahkan, dimana pada tanggal 9 Juli 2014 pagi, kubu capres-cawapres nomor urut 1 sudah memprediksi bahwa kemungkinan besar hasil hitung cepat Pilpres 2014 akan memenangkan Jokowi-JK dengan selisih angka sekitar 5 persen. Kubu capres-cawapres nomor 1 mulai menebar kekacauan dan sekaligus penggiringan opini masyarakat luas dengan mengacaukan hasil hitung cepat yang biasanya berlangsung di setiap stasiun TV pada Pilkada maupun Pilpres

Selama 10 tahun terakhir ini, survei hitung cepat selalu dipakai oleh semua kalangan sebagai acuan hasil Pilkada maupun Pilpres, dimana para konstentan Pilkada maupun Pilpres dan KPU menggunakan hasil hitung cepat tersebut sebagai pembanding hasil rekap manual dan masyarakat pun menggunakan hasil hitung cepat tersebut sebagai informasi sementara yang akurat mengenai pemenang Pilkada maupun Pilpres, namun yang terjadi dalam Pilpres 2014 ialah kubu capres-cawapres nomor 1 secara tiba-tiba mengganti lembaga survey yang kredibel di stasiun TV milik pendukung capres-cawapres nomor 1 tersebut dengan menempatkan 3 lembaga survei yang diindikasikan sebagai lembaga survei pesanan yang bertugas melaporkan hasil hitung cepat dengan memenangkan capres-cawapres nomor 1

Selain itu, melalui sejumlah pernyataan yang disampaikan sejumlah politisi partai pendukung capres-cawapres nomor 1 juga berusaha merusak opini masyarakat, diantaranya:

1) Fadli Zon (Wakil Ketua Umum Partai Gerindra) tiba-tiba menyatakan bahwa situs KPU sudah di hack orang dan banyak informasi di media yang tidak bisa dipercayai, sehingga kubu capres-cawapres nomor 1 hanya mempercayai sejumlah media yang mendukung capres-cawapres nomor 1 serta sejumlah lembaga survey yang yang dianggap kredibel, seperti Puskaptis, LSN, IRC dan JSI

2) Mahfud MD menyatakan bahwa lembaga-lembaga survey yang ada di Indosiar, SCTV, Metro TV, RRI serta media lainnya tidak bisa dipercaya dan juga menegaskan bahwa yang terjadi adalah Cyber War (perang media)

3) Tantowi Yahya (Wasekjen Partai Golkar) memprotes keras saat Litbang Kompas, LSI, RRI, Cyrus serta lembaga survei lainnya menyatakan kemenangan Jokowi berdasarkan hasil hitung cepat yang dirilis 7 lembaga survei dan juga menuduh bahwa hal tersebut merupakan pernyataan kemenangan yang prematur serta terburu-buru

4) Capres Partai Gerindra Prabowo Subianto mengatakan ke media bahwa sebenarnya capres Partai Gerindra Prabowo Subianto lah yang menang berdasarkan hasil hitung cepat sejumlah lembaga survei yang kredibel dan melakukan aksi sujud syukur ke lantai di rumah keluarga besarnya di Jakarta Selatan yang diikuti oleh Aburizal Bakrie alias Ical serta para politisi partai pendukung capres-cawapres nomor 1 tersebut

Sejumlah manuver tersebut membuat masyarakat luas terperangah dan mempertanyakan mana hitung cepat yang benar dan siapa sebenarnya pemenang Pilpres 2014

PLAN C (RENCANA C)

Tanggal 10 Juli 2014 (sehari setelah hari H) masyarakat telah mencium gelagat bahwa sejumlah lembaga survei yang dipakai untuk menyatakan kemenangan capres Partai Gerindra Prabowo Subianto merupakan lembaga survei abal-abal, namun pasukan cyber pendukung capres -cawapres nomor 1 telah meklakukan penggiringan opini besar-besaran di sejumlah media sosial dengan mengatakan, "Prabowo yang menang!", "Jangan percaya lembaga survey, kita tunggu 22 Juli!" dan sejumlah opini lainnya yang menghambat opini masyarakat bahwa Jokowi telah memenangkan Pilpres 2014

Berbagai media pendukung capres Partai Gerindra Prabowo Subianto yang semula telah menerima kemenangan Jokowi kini mempertanyakan siapa yang menang sebenarnya dan kubu capres-cawapres nomor 1 kembali menyatakan kemenangannya lewat Real Count, dimana pada tanggal 10 Juli 2014 malam hari kubu capres-cawapres nomor 1 mengatakan bahwa tim data Partai Keadilan Sejaktera (PKS) telah menyelesaikan Real Count yang bersumber dari form C1 dari 270.000 TPS dengan hasil sementara kemenangan capres Partai Gerindra Prabowo Subianto 53 persen

Dengan jaringan yang dimiliki Partai Keadilan Sejaktera (PKS) dan tim, apakah mungkin masuk akal bila mereka mampu mengolah data C1 yang merupakan hasil scan dari 270.000 TPS dalam waktu 1x24 jam? Kubu capres-cawapres nomor 1 telah melakukan KEBOHONGAN BESAR! Selain itu, sejumlah tim cyber pendukung kubu capres-cawapres nomor 1 juga melancarkan serangan cyber dengan mengacaukan situs KPU dan merubah data Scan Form C1 yang memang bisa diakses bebas oleh siapapun dengan tujuan membuat sejumlah opini yang kacau, sehingga masyarakat juga merasa tidak yakin terhadap KPU dan semakin cemas dengan hasil keputusan akhir KPU. Kubu capres-cawapres nomor 1 bahwak mengatakan bahwa mereka telah menyelesaikan perhitungan Real Count dengan data masuk sebanyak 90 persen dan hasilnya ialah capres Partai Gerindra Prabowo Subianto memenangkan Pilpres 2014 dengan selisi suara 7 persen dari Jokowi dan hal tersebut merupakan langkah untuk lebih memprovokasi masyarakat serta mempengaruhi perhitungan manual yang sedang berlangsung di KPU


Plan A - Plan B - Plan C dan Plan D dari Capres No.1
Di sisi lain, kabar mengejutkan kembali datang dari KPU, dimana Ketua KPU menyatakan bahwa pengumuman hasil keputusan akhir KPU tanggal 22 Juli belumlah mutlak dan bisa saja digugat oleh siapapun ke Mahkamah Konsititusi (MK). Hal tersebut sangat aneh dan KPU seakan-akan ingin melempar tanggung jawabnya ke Mahkamah Konsititusi (MK) yang akhirnya menimbulkan kecurigaan bahwa KPU kemungkinan besar telah diintimidasi oleh kubu capres-cawapres nomor 1, sehingga KPU sehingga mulai takut melakukan pengumuman pemenang Pilpres 2014, sehingga masyarakat semakin tidak paham apa yang sedang terjadi sebenarnya pada Pilpres 2014 dan sulit percaya kepada siapapun

PLAN D (RENCANA D)


Plan A - Plan B - Plan C dan Plan D dari Capres No.1
Langkah terakhir dari kubu capres-cawapres nomor 1 untuk merebut kemenangan atau kekuasaan yang ada, dimana target terakhir dari PLAN C ialah KPU akhirnya memutuskan capres Partai Gerindra Prabowo Subianto sebagai pemenang Pilpres 2014, namun bila KPU tidak mampu dikendalikan sepenuhnya oleh kubu capres-cawapres nomor 1, meski keputusan KPU telah memenangkan Jokowi, kemenangan Jokowi hanya berselisih tipis dengan angka sekitar 0,5 persen dan dengan selisih angka yang tipis tersebut, kubu capres-cawapres nomor 1 akan mengajukan gugatan ke Mahkamah Konsititusi (MK) dan kubu capres-cawapres nomor 1 akan sangat diuntungkan karena Ketua Mahkamah Konsititusi (MK) merupakan salah satu kader Partai Amanat Nasional (PAN) sebagai salah satu partai pendukung kubu capres-cawapres nomor 1, ditambah dengan keberadaan Mahfud MD sebagai ketua tim sukses Prabowo-Hatta dan mantan Ketua Mahkamah Konsititusi (MK) yang masih punya pengaruh di Mahkamah Konsititusi (MK)

Saya ingin mengakhiri artikel ini dengan satu seruan, "RAPATKAN BARISAN DAN KAWAL KEMENANGAN JOKOWI-JK" agar Plan A - Plan B - Plan C dan Plan D dari Capres No.1 tersebut dapat dipatahkan dan Jokowi-JK resmi diumumkan KPU maupun Mahkamah Konstitusi (MK) sebagai pemenang Pilpres 2014, sehingga Indonesia Baru terwujud

#RakyatBersatuTakBisaDikalahkan

By: Lay Cao Lay
Sunday, July 13, 2014

Revisi UU MD3

Revisi UU MD3
Dalam artikel ini saya ingin membagikan info teraktual mengenai Revisi UU MD3

Sebagaimana telah diketahui bersama, satu hari menjelang pilpres 2014 (tepatnya tanggal 9 Juli 2014), keputusan mengejutkan datang dari para anggota DPR, dimana mereka resmi mengesahkan Revisi Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2009 tentang MPR, DPR, DPD dan DPRD atau lebih dikenal dengan nama Revisi UU MD3. Keputusan mengesahkan Revisi UU MD3 tersebut telah mencederai hukum di Indonesia, karena dengan Revisi UU MD3 tersebut, pemberantasan korupsi akan terhambat dan membuat para anggota DPR seakan-akan memiliki kekebalan hukum

Dalam Revisi UU MD3 disebutkan bahwa pemanggilan terhadap anggota DPR untuk memberikan keterangan atas dugaan tindak pidana (termasuk korupsi) harus dengan persetujuan presiden. Selain itu, dalam Revisi UU MD3 juga dijelaskan bahwa partai politik peraih suara terbanyak dalam pemilu legislatif tidak secara otomatis memperoleh posisi Ketua DPR, karena Ketua DPR akan dipilih oleh anggota DPR lewat rapat paripurna. Tiga fraksi DPR yang mengikuti sidang memilih Walk Out saat Revisi UU MD3 tersebut disahkan, yaitu PDI Perjuangan, Partai Hanura dan PKB. Untuk mengetahui naskah Revisi UU MD3 tersebut, silahkan kunjungi Naskah RUU MD3 10 Jul 2014
Menanggapi Revisi UU MD3 yang telah dibuat oleh para anggota DPR tersebut, seorang warga Jakarta bernama Melany Tedja akhirnya membuat petisi online yang berjudul "Tolak Revisi RUU MD3″ di situs Change.Org yang secara khusus ditujukan kepada bagian Humas dan Sekertariat Makhamah Konstitusi (MK) agar Mahkamah Konstitusi (MK) dapat melakukan peninjauan kembali atas Revisi UU MD3 tersebut

Bagi yang ingin mendukung penolakan Revisi UU MD3 tersebut, silahkan berpartisipasi dalam petisi online di bawah ini dan untuk menandatangani petisi online tersebut, silahkan tekan tombol scroll yang berada di antara tombol kiri dan tombol kanan, lalu arahkan ke kanan atas




By: Lay Cao Lay
Friday, July 11, 2014

RAPATKAN BARISAN DAN KAWAL KEMENANGAN JOKOWI-JK

RAPATKAN BARISAN DAN KAWAL KEMENANGAN JOKOWI-JK
Dalam artikel ini saya ingin membagikan info teraktual mengenai RAPATKAN BARISAN DAN KAWAL KEMENANGAN JOKOWI-JK

Sehubungan dengan konferensi pers Prabowo Subianto yang dilakukan beberapa waktu lalu, dimana Prabowo Subianto menyatakan bahwa beliau telah memenangkan Pilpres 2014 dan mengindikasikan KETIDAKTERIMAAN Prabowo Subianto dengan hasil Pilpres 2014, kami menyerukan kepada seluruh pendukung Jokowi-JK untuk merapatkan barisan dan mengawal kemenangan Jokowi-JK dengan memperhatikan langkah-langkah di bawah ini:

1) WASPADA GHOST PROTOCOL dari kubu Prabowo-Hatta (PraHaRa) dan jangan sampai terpancing kerusuhan yang telah diskenario seperti yang dilakukan Prabowo Subianto di bulan Mei 1998 silam

2) Sekelompok orang orang yang akan melakukan kerusuhan dengan memakai atribut PDI Perjuangan/ ataupun Jokowi akan dibentuk oleh kubu Prabowo-Hatta (PraHaRa) dengan tujuan agar rakyat semua akan terpancing mendukung, sehingga keadaan negara jadi darurat dan diambil alih oleh militer

3) Kondisi negara akan kacau hasil Pilpres 2014 akan dibatalkan dan Pilpres 2014 akan diulang di bawah kendali militer, sehingga kemenangan untuk Prabowo Subianto dapat terjadi dengan memanipulasi hasil perhitungan suara

4) Yang bisa kita lakukan sekarang ialah berdoa dan meminta perlindungan TUHAN agar TUHAN turun tangan serta melindungi rakyat Indonesia dari kejahatan

5) Kawal kotak-kotak suara di TPS-TPS maupun pengiriman sesuai jalurnya, mulai dari penghitungan suara di kelurahan, kecamatan, kabupaten/kotamadya, propinsi sampai ke KPU

6) WASPADA pengumuman resmi KPU pada tanggal 22 Juli 2014, agar jangan sampai Prabowo Subianto diumumkan sebagai pemenang dalam Pilpres 2014

7) Seluruh rakyat Indonesia harus selalu WASPADA, karena negeri ini sedang diaduk-aduk oleh kubu jahat yang mulai mengeluarkan sifat aslinya dan akan menghalalkan segala cara untuk memenuhi ambisi jahatnya

Saya akan mengakhiri artikel ini dengan satu seruan, "RAPATKAN BARISAN DAN KAWAL KEMENANGAN JOKOWI-JK"

#RakyatBersatuTakBisaDikalahkan

By: Lay Cao Lay
Thursday, July 10, 2014

Hasil Hitung Cepat Pilpres 2014

Dalam artikel ini saya ingin membagikan info teraktual mengenai hasil hitung cepat Pilpres 2014 yang dirilis oleh 11 lembaga survei







No Lembaga Survei Prabowo-Hatta (%) Jokowi-JK (%) Sumber
1 Populi Center 49,05 50,95 Suara.com
2 CSIS 48,1 51,9 Liputan6.com
3 Litbang Kompas 47,66 52,33 Kompas.com
4 Indikator Politik Indonesia 47,05 52,95 Metrotvnews.com
5 Lingkaran Survei Indonesia 46,43 53,37 Konferensi pers
6 Radio Republik Indonesia 47,32 52,68 Detik.com
7 Saiful Mujani Research Center 47,09 52,91 Detik.com
8 Puskaptis 52,05 47,95 Viva.co.id
9 Indonesia Research Center 51,11 48,89 Okezone.com
10 Lembaga Survei Nasional 50,56 49,94 Viva.co.id
11 Jaringan Suara Indonesia 50,13 49,87 Viva.co.id


By: Lay Cao Lay