Blog ini merupakan media pemenangan JOKOWI FOR PRESIDENT (JOKOWI PRESIDENKU)
Friday, April 25, 2014

Fadli Zon Akui Prabowo Culik Aktivis

Fadli Zon Akui Prabowo Culik Aktivis
Dalam artikel ini saya ingin membagikan info teraktual mengenai Fadli Zon Akui Prabowo Culik Aktivis

Kabar terdahsyat kembali datang dari Fadli Zon, dimana Twitterland (sebutan untuk jejaring dunia maya Twitter) dikejutkan dengan pengakuan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon bahwa Prabowo Subianto menculik aktivis-aktivis di medio akhir Orde Baru (sekitar tahun 1997/1998)

Hal tersebur berawal dari aktivis Fadjroel Rahman yang mengorek dosa masa lalu capres Partai Gerindra tersebut kepada Fadli Zon, dimana Fadjroel Rahman meminta Fadli Zon membuat puisi soal penculikan yang mengarah ke Prabowo Subianto, namun Fadli Zon akhirnya terprovokasi serta mengaku bahwa Prabowo Subianto memang menculik aktivis

"Org2 yg ditangkap (diculik) Skrg jd @Gerindra contoh Desmon, Pius, Haryanto Taslam, Aan Rusdianto. Mereka dukung @prabowo08," kicau Fadli Zon melalui akun @fadlizon.

Kicauan tersebut ramai dikomentari, dimana Fadjroel Rahman merespon kicauan Fadli Zon dengan retweet, "Mengaku menculik => @fadlizon"

Akun @ciciloli kaget, lalu menulis, "Ternyata bener toh (penculikan itu), kirain cm gosip! Trs yg msh ilang, piye kabare??"

Sementara itu, akun @Pusokoseto mempertanyakan apakah pernyataan Fadli Zon menyiratkan penyesalan atau justru kesombongan dengan menulis, "Atau ini ancaman untuk melakukannya lagi?"

Akun @nasir_bst mempertanyakan nasib budayawan Wiji Thukul yang nasibnya belum jelas kepada Fadli Zon dengan menulis, "Apa Wiji juga masuk Gerindra juga, seperti aktivis lain"

Akun @erzamodjo mengatakan, "Tinggal satu step lagi pak @fadjroeL kejar penculiknya. Suruh gentle tunjukkan dimana mrk kuburan korban2 yg mati, kasihan keluarganya pak.."

By: Lay Cao Lay
Thursday, April 24, 2014

2 Cawapres Jokowi yang Tersisa

2 Cawapres Jokowi yang Tersisa
Dalam artikel ini saya ingin membagikan info teraktual mengenai 2 Cawapres Jokowi yang Tersisa

Sebagaimana telah diketahui bersama, cawapres untuk capres PDI Perjuangan Joko Widodo alias Jokowi menyisakan dua nama dan kabar yang beredar saat ini ialah hanya Jusuf Kalla dan Jendral TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu yang tersisia dalam bursa cawapres

Sekjen PDI Perjuangan Tjahjo Kumolo mengungkapkan bahwa kandidat cawapres Jokowi sudah berkurang satu, dimana sebelumnya beredar tiga nama yang menjadi kandidat cawapres Jokowi, yaitu Jusuf Kalla, Jendral TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu dan Mahfud MD, namun sepertinya nama terakhir telah tereliminasi

Komunitas kalangan entrepreneur dan profesional muda pendukung Jokowi yang menamakan dirinya EP for Jokowi menyebutkan hanya dua nama yang cocok menjadi kandidat cawapres Jokowi, yaitu Jusuf Kalla dan Jendral TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu

"Kami justru melihat yang pas menjadi wakil presiden nantinya hanya dua figur, yakni Jusuf Kalla atau Ryamizard Ryacudu. Mereka pengalaman, dan bisa diterima di segala lapisan masyarakat," ungkap Koordinator EP for Jokowi Hasnil Fajri beberapa waktu lalu

Menurut Hasnil Fajri, Jusuf Kalla banyak mendapat dukungan dari para elite politik yang tidak hanya berasal dari PDI Perjuangan dan juga bukan hanya berdasarkan tingginya elektabilitas Jusuf Kalla sebagai cawapres di survei, namun juga karena kenegarawanan Jusuf Kalla yang tidak lagi diragukan

"Sedangkan, Ryamizard Ryacudu, mantan KSAD, menjadi tokoh dari militer yang dianggap tepat untuk mendampingi Jokowi sebagai cawapres juga," lanjut Hasnil Fajri

Proses pencarian sosok cawapres yang bakal dipilih mendampingi Jokowi ke Pilpres 2014 sudah hampir final, dimana nama-nama calon tersebut kini sudah semakin mengerucut hingga menyisakan dua pilihan saja

"Nama calon wapres Pak Jokowi sudah mengerucut ke dua nama," ungkap Sekretaris Jendral DPP PDI Perjuangan Tjahjo Kumolo

By: Lay Cao Lay

Cawapres Jokowi Mengerucut Menjadi 2 Nama

Cawapres Jokowi Mengerucut Menjadi 2 Nama
Dalam artikel ini saya ingin membagikan info teraktual mengenai Cawapres Jokowi Mengerucut Menjadi 2 Nama

Kabar terdahsyat kembali datang dari Jokowi, dimana proses pencarian sosok cawapres yang bakal dipilih mendampingi capres PDI Perjuangan Joko Widodo alias Jokowi ke Pilpres 2014 sudah hampir final dan nama-nama cawapres tersebut kini sudah semakin mengerucut hingga menyisakan dua pilihan saja

"Nama calon wapres Pak Jokowi sudah mengerucut ke dua nama," ujar Sekretaris Jendral DPP PDI Perjuangan Tjahjo Kumolo beberapa waktu lalu

Meski demikian, Tjahjo Kumolo enggan menjelaskan siapa dua pilihan nama yang tersisa, dimana kewenangan tersebut ada pada Jokowi dan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri

"Saya tidak pada posisi menyebut dua nama," jawab Tjahjo Kumolo

Hal serupa juga diutarakan oleh juru bicara PDI Perjuangan Eva Kusuma Sundari, dimana beliau menjelaskan proses pengerucutan nama tersebut sepenuhnya dilakukan oleh Megawati Soekarnoputri dan Jokowi

"Mereka berdua, Ibu Mega dan Pak Jokowi," ungkap Eva Kusuma Sundari

Eva Kusuma Sundari juga tidak mau menyebut siapa dua sosok tersebut yang akan disaring lagi dengan berbagai kriteria terakhir

"Kriteria untuk jangka pendek tentu bisa memenangkan pilpres. Berikutnya bisa memperkuat pemerintahan di DPR dan tentu yang paling penting ada chemistrynya dengan Pak Jokowi," tutup Evama Kusuma Sundari

By: Lay Cao Lay
Wednesday, April 23, 2014

PDIP ajak rakyat berdiskusi tentukan cawapres Jokowi

PDIP ajak rakyat berdiskusi tentukan cawapres Jokowi
Dalam artikel ini saya ingin membagikan info teraktual mengenai PDIP ajak rakyat berdiskusi tentukan cawapres Jokowi

Sebagaimana telah diketahui bersama, Ketua DPP PDI Perjuangan Maruarar Sirait enggan berkomentar lebih detail terkait siapa yang bakal mendampingi capres PDI Perjuangan Joko Widodo alias Jokowi, dimana keputusan calon wakil presiden tinggal menunggu keputusan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri

"Belum ada. Mbak Mega yang memutuskan. Pilihan Jokowi ini pasti tepat itu pilihan aspirasi mayoritas rakyat. Sabar, nanti ada waktu yang tepat," kata Maruarar Sirait seusai acara "Diskusi Interaktif AFTERNOON TEA "Kawin Paksa, Hancurkan Bangsa" di Jalan Gereja Theresia Menteng, Jakarta Pusat beberapa waktu lalu

Ketika disinggung tiga nama yang digadang-gadang akan menemani Jokowi seperti Jusuf Kalla, Mahfud MD dan Jendral TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu, Maruarar Sirait pun berpendapat bahwa ketiga nama tersebut akan dipertimbangkan

"Jangan menjadikan situasi mencari cawapres suatu yang elitis, biar rakyat berdiskusi, apa kelebihan apa kekurangan, partisipasi publik akan meningkat, Jokowi dipilih karena ada partisipasi. Biarkan rakyat ikut berdiskusi," ungkap Maruarar Sirait

Ketika didesak oleh awak media, anggota DPR RI tersebut selalu mengelak dan tidak mengetahui siapa orang yang akan mendampingi Jokowi

By: Lay Cao Lay
Tuesday, April 22, 2014

Kami Relawan Bukan Karyawan

Dalam artikel ini saya ingin membagikan info teraktual mengenai Kami Relawan Bukan Karyawan (puisi karya Nophie Frinsta lainnya yang diterbitkan di Kompasiana dengan judul Kami Relawan Bukan Karyawan

Kami Relawan Bukan Karyawan

Jon
Kami ini relawan
Bukan karyawan
Sedangkan kamu itu jongos
Makanya kamu di kasih ongkos

Jon
Kami tidak butuh imbalan
Apalagi bayaran
Tidak seperti kamu yang haus jabatan
Dan ambisi kekuasaan

Jon
Kami ini ikhlas
Tidak berharap mendapat balas
Bukan seperti kamu yang culas
Tak berpendirian seperti air di daun talas

Jon
Kami ini rakyat
Bukan birokrat apalagi pejabat
Tidak seperti kamu yang haus kuasa
Tidak peduli fitnah dan dosa

Jon
Kami gunakan tweeter dan facebook
Juga path dan kompasiana
Bukan dengan gebuk
Apalagi keris dan senjata

Jon
Kami tidak butuh pulsa
Apalagi cuma nasi bungkus
Karena kami ikhlas dan rela
Tidak seperti kamu yang sarat modus

Jon
Kami rakyat biasa
Cukup jalan kaki tidak butuh kuda
Saya lihat kamu mulai putus asa
Melihat si kurus tetap perkasa

Hahahahahaaa.....

Puisi untuk si Jontor - 2

By: Lay Cao Lay

Raiso Ngaca

Dalam artikel ini saya ingin membagikan info teraktual mengenai Raiso Ngaca (sebuah puisi yang ditulis oleh Nophie Frinsta dan diterbirkan di Kompasiana dengan judul Raiso Ngaca

Raiso Ngaca

Jon
Kamu itu siapa
Apa di rumahmu tidak punya kaca
Sudah jelas kalah masih banyak bertingkah
Apalagi kamu menang pasti sewenang-wenang

Jon
Kamu sudah bisa apa
Yang sudah terbukti bagus untuk negara
Jangan hanya sesumbar dan berbangga ria
Toh buktinya pun tidak ada

Jon
Kamu cuma banyak bicara
Seolah kamu peduli bangsa
Padahal yang kamu kejar hanya ambisimu saja
Untuk bisa menjadi penguasa

Jon
Apa baktimu selama ini
Untuk negeri yang katanya kamu cintai
Apa kamu hanya bisa menghina dan memaki
Ketika ambisimu tidak terpenuhi

Jon
Kalau kamu memang mampu
Kamu tidak perlu belagu
Cukup tunjukkan prestasimu
Dan rakyat pasti mendukungmu

Jon
Hanya orang iri hati
Yang sedikit-sedikit nulis puisi
Puisi yang bukan karya seni
Tapi ungkapan dari ambisi yang tak terpenuhi

Jon
Puisimu tidak berguna
Kebencianmu pun sia-sia
Buktinya dia tetap perkasa
Bahkan banyak orang datang membela tanpa diminta

Jon
Kamu itu siapa
Apa di rumahmu tidak punya kaca
Sudah jadi pecundang
Merasa seperti pemenang

Jon
Apa kamu tidak merasa malu
Karena orang yang kamu maki
Tidak peduli pada semua puisimu
Kalau di luar negeri, orang malu bisa bunuh diri

++++++
Puisi untuk si Jontor

By: Lay Cao Lay

Kekayaan Jokowi jauh melampaui Prabowo Subianto dan Aburizal Bakrie

Kekayaan Jokowi jauh melampaui Prabowo Subianto dan Aburizal Bakrie
Dalam artikel ini saya ingin membagikan info teraktual mengenai Kekayaan Jokowi jauh melampaui Prabowo Subianto dan Aburizal Bakrie

Sebagaimana telah diketahui bersama, akan ada tiga capres yang akan bertarung dalam Pilpres 9 Juli 2014 mendatang, yaitu: Joko Widodo alias Jokowi dari PDI Perjuangan, Prabowo Subianto dari Partai Gerindra dan Aburizal Bakrie alias Ical dari Partai Golkar. Salah satu parameter yang akan kita bahas dalam artikel ini ialah jumlah kekayaan ketiga capres tersebut

1) Prabowo Subianto

Capres Partai Gerindra Prabowo Subianto memiliki jumlah kekayaan sebesar Rp. 1,6 triliun, namun dalam berita berjudul Utang Perusahaan Prabowo Rp 14,3 Triliun yang diterbirkan VIVANews, beliau juga memiliki total hutang sebesar Rp. 14,3 triliun dan selisih total kekayaan dengan total hutang Prabowo Subianto mencapai minus Rp.12,7 triliun

2) Aburizal Bakrie

Capres Partai Golkar Aburizal Bakrie alias Ical memiliki jumlah kekayaan sebesar Rp. 8,01 triliun, namun dalam berita berjudul Utang Bakrie Rp 21,4 triliun dan US$ 5,7 milyar yang diterbitkan Tempo, beliau juga memiliki total hutang sebesar Rp. 21,4 triliun dan selisih total kekayaan dengan total hutang Aburizal Bakrie alias Ical mencapai minus Rp. 13,39 triliun (di luar hutang lainnya sebesar US$ 5,7 milyar)

3) Jokowi

Dalam berita berjudul Harta Kekayaan Jokowi Rp 27 Miliar yang diterbitkan Tribunnews, capres PDI Perjuangan Joko Widodo alias Jokowi memiliki jumlah kekayaan sebesar Rp.27,26 milyar dan total hutang sebesar Rp.0,- alias tidah memiliki hutang sama sekali dan selisih total kekayaan dengan total hutang Jokowi sebesar Rp. 27,26 milyar

Seorang pemimpin harus memiliki karakter yang baik dan salah satunya ialah tidak akan menunda ataupun ingkar janji dalam membayar hutang dan bukan menumpuk hutang, karena sangat berbahaya bagi capres yang sedang terlilit hutang bila terpilih menjadi Presiden

Prabowo Subianto dan Aburizal Bakrie alias Ical sangat berambisi untuk jadi Presiden, karena otak mereka sudah buntu alias tidak memiliki cara lagi untuk menyelamatkan perusahaan mereka dengan hutang yang begitu besar

Bila Anda adalah pribadi yang cerdas dan cermat, Anda pasti dapat menilai sendiri mengapa Aburizal Bakrie alias Ical dan Prabowo Subianto sangat berambisi untuk menjadi Presiden

Silahkan Anda menilai sendiri siapa capres yang pantas memimpin Indonesia

By: Lay Cao Lay

Pasukan Nasi Bungkus

Pasukan Nasi Bungkus
Dalam artikel ini saya ingin membagikan info teraktual mengenai Pasukan Nasi Bungkus

Sebagaimana telah diketahui bersama, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon tidak pernah kehabisan ide untuk menelurkan sebuah karya puisi, dimana kini telah beredar puisi yang dibuat Fadli Zon berjudul "Pasukan Nasi Bungkus"

Puisi yang dibuat Fadli Zon pada 20 April 2014 tersebut bercerita tentang sekelompok orang yang aktif di dunia maya untuk menyerang lawannya

"Kami pasukan nasi bungkus. Laskar cyber pejuang di belakang komputer. Senjata kami facebook dan twitter. Menyerang lawan tak pernah gentar. Patuh setia pada yang bayar," demikian bunyi salah satu bagian dalam puisi Fadli Zon tersebut

Puisi tersebut juga berisi sejumlah orang yang diibaratkan sebuah pasukan yang tidak lepas dari cacian dan fitnah, bahkan identitas kelompok tersebut tidak diketahui

"Kami pasukan nasi bungkus. Hidup dari cacian dan fitnah harian. Tetap gagah bertopeng relawan. Tak kenal menyerah selalu melawan. Identitas diri jarang ketahuan," demikian bunyi salah satu bait puisi Fadli Zon

Isi puisi yang dibuat Fadli Zon tersebut cukup menyinyir, dimana sekelompok orang tersebut tidak takut dosa apalagi neraka, bahkan sekelompok orang tersebut dapat tertawa di balik luka demi sebungkus nasi dan kiriman pulsa

"Kami pasukan nasi bungkus. Tak takut dosa apalagi neraka. Kami bisa tertawa di balik luka. Demi sebungkus nasi dan kiriman pulsa," begitu lanjutan bunyi bait puisi Fadli Zon

Berikut isi lengkap puisi terbaru Fadli Zon:

Pasukan Nasi Bungkus

Kami pasukan nasi bungkus
Laskar cyber pejuang di belakang komputer
Senjata kami facebook dan twitter
Menyerang lawan tak pernah gentar
Patuh setia pada yang bayar

Kami pasukan nasi bungkus
Hidup dari cacian dan fitnah harian
Tetap gagah bertopeng relawan
Tak kenal menyerah selalu melawan
Identitas diri jarang ketahuan

Kami pasukan nasi bungkus
Punya sejuta akun siluman
Bagai pedang terhunus
Siap menghujam setiap orang

Kami pasukan nasi bungkus
Tak takut dosa apalagi neraka
Kami bisa tertawa di balik luka
Demi sebungkus nasi dan kiriman pulsa

Fadli Zon, 20 April 2014

By: Lay Cao Lay
Monday, April 21, 2014

Bapakku bukan Perekayasa Konflik

Dalam artikel ini saya ingin membagikan info teraktual mengenai Bapakku bukan Perekayasa Konflik yang disadur dari pengakuan Alissa Wahid yang ditulis tanggal 26 Februari 2012 dalam blog pribadinya berjudul Bapakku bukan Perekayasa Konflik

Dalam artikel ini akika mawar berbagi info cetar membahana badai halilintar mengenai Bapakku bukan Perekayasa Konflik yang disadur dari pengakuan Alissa Wahid yang ditulis tanggal 26 Februari 2012 dalam blog pribadinya berjudul Bapakku bukan Perekayasa Konflik

Senin malam tanggal 25 Pebruari 2012, saya membaca mention di Twitter tentang berita Cak Imin yang akan mendirikan monumen Gus Dur di Singkawang, Kalimantan Barat (kota yang banyak dihuni saudara sebangsa berdarah Tionghoa, yang tentu saja sangat menghormati Gus Dur). Walau saya mempertanyakan apakah kiranya sebagai orang yang substantif dan tidak suka seremoni, Bapak suka dibuatkan monumen; bukan soal itu yang mengganggu batin saya. Sudah beberapa waktu terakhir ini, saya ingin menulis tentang Bapak dan konflik PKB Cak Imin dari kacamata saya sebagai anak. Tulisan ini adalah kegelisahan saya atas narasi yang semakin sering saya dengar dari mulut dan tulisan orang-orang PKB Cak Imin

Pertama kali, saya mendengarnya langsung dari seorang politisi PKB Cak Imin, saat ia meminta saya untuk menjembatani PKB Cak Imin dengan keluarga Ciganjur. Sebelumnya, saya sudah beberapa kali didekati untuk menjadi jembatan ishlah, tetapi narasi ini belum pernah saya dengar. Sejak itu, saya mulai banyak mendengarnya dari orang-orang lain dari berbagai penjuru, baik langsung dari mulut mereka maupun via social-media, baik dari kawan-kawan Nahdiyin maupun dari aktivis PKB Cak Imin. Narasinya sederhana: Konflik antara Gus Dur dan Cak Imin adalah konflik yang sengaja didesain oleh Gus Dur, sebagai strategi politik; bukan sebuah konflik sungguhan dan karenanya sejatinya tidak ada persoalan antara Gus Dur dan Cak Imin. Bahkan ada beberapa orang yang menyebutkan dengan gagah berani langsung kepada saya, bahwa Cak Imin sampai saat ini hanya menjalankan perintah Gus Dur

Karena saya bukan politisi, tentu saja saya tidak bisa menjawabnya secara politis juga. Saya hanya menjadi amat gelisah sebagai seorang anak, yang mendampingi Bapak secara intensif selama tiga tahun terakhir kehidupan Beliau. Hari-hari bersama yang membuat saya memahami beban nurani Bapak soal konflik PKB.

Saya melihat sendiri, bagaimana sikap Bapak ketika Cak Imin datang ke rumah bersama Mbak Rustini, istrinya. Bapak hanya menjawab pertanyaan Mbak Rustini dan mendiamkan Cak Imin. Ini terulang di banyak ketika lain. Bapak, misalnya, enggan menemui Lukman Eddy yang sudah sampai di Ciganjur. Tidak mau menemui. Sebagai orang yang blak-blakan dan mengingat bagaimana Gus Dur bersikap bahkan kepada musuh-musuh politiknya, respons Bapak saat itu, amat sangat jelas: tidak suka bertemu dengan mereka

Tahun 2008, saat proses hukum PKB Gus Dur versus PKB Cak Imin, Bapak pernah mengalami stroke ringan, entah ke berapa sejak stroke hebat tahun ‘98. Bapak terjatuh saat dituntun ke kamar mandi oleh Sulaiman di kantor Gus Dur di pojok PBNU. Saat saya tanya apa yang terjadi persis sebelumnya, Sulaiman bercerita bahwa Bapak sedang mendengarkan berita di TV tentang sidang di PTUN. Ada beberapa orang PKB Cak Imin yang diinterview oleh media, dan mereka blak-blakan bicara lebih senang Gus Dur tidak di PKB. Mendengar jawabannya, Bapak berkomentar, "Orang-orang ini saya yang bawa masuk politik. Kok tega ya mereka ngomongnya begitu tentang saya, Man?" Lalu Bapak minta diantar ke kamar mandi, dan jatuh pingsan di depan pintu kamar mandi. Kata dokter, stroke ringan akibat stres

Puncaknya tentu saja ketika MA memutuskan gugatan PKB Gus Dur ditolak, dan MA menyatakan PKB yang sah adalah PKB hasil Muktamar Semarang di mana Ketum adalah Cak Imin dan Ketua Dewan Syuro adalah Bapak. Setelah keputusan itu, nyatanya PKB Cak Imin tetap berkantor di Menteng, tidak di kantor asli PKB yaitu di Kalibata tempat Gus Dur selalu datang. Setiap keputusan juga diambil sendiri, tidak melibatkan Gus Dur sebagai Ketua Dewan Syuro. Puncaknya di pendaftaran DCS Pemilu 2009 yang dibuat sendiri oleh Cak Imin dan pengurusnya. Drastis menurunnya kesehatan Bapak setelah itu, sangat kami rasakan di Ciganjur. Sehebat apapun fisik Beliau sepanjang hidupnya, seperti kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan tekanan psikologis yang hebat ini. Dokter dari berbagai penjuru dunia memberikan respons yang sama atas catatan medis Bapak, "Ini pasien ajaib: dengan kondisi fungsi tubuh seperti ini, masih bisa bertahan begini." Kami tahu, hanyalah keajaiban itu yang sanggup menopang tekanan psikis, dan entah berapa lama. Itu sebabnya, Ibu sangat sulit untuk menerima perlakuan PKB Cak Imin kepada Bapak, sampai saat ini

Mei 2009, Bapak berkunjung ke Jogja. Bapak bilang, "Lis, kamu punya uang yang bisa Bapak pinjam?"

"Berapa dan untuk apa?" tanya saya. "Ya untuk pegangan saja, 5 juta cukup. Bapak nggak punya uang sama sekali."

Bapak saya adalah orang yang mandiri, kalau sampai minta uang kepada saya, berarti sudah berat sekali bagi Bapak. Saya telepon Yenny sambil menangis. Kok bisa, Bapak sampai tak punya uang, bahkan sesedikit itu. Kok bisa, mereka-mereka yang khianat kepada Bapak hidup bergelimang kemewahan sedangkan Bapak tak punya uang di kantungnya

Bahkan menulis paragraf di atas ini pun, saya tak mampu menahan air mata. Menyakitkan sungguh, walau juga semakin membuat saya sadar betapa Bapak jauh dari godaan harta dan kekuasaan

Pertengahan 2009 itu kondisi Bapak memburuk. Banyak orang menjenguk Beliau di RS, dan lazimnya orang Indonesia, menitipkan belarasa urunan biaya perawatan. Bapak mengumpulkan amplop-amplop ini di dalam laci kantor di PBNU. Lebaran 2009, saya tanya ke Bapak apakah Beliau akan memberikan THR khusus ke staf Ciganjur. Jawabannya tidak dan agar saya yang memastikan mereka mendapatkan THRnya

"Bapak sedang mengumpulkan uang untuk Muktamar PKB, nak. Imin sudah nggak bisa dibiarkan terus-terusan begini," demikian kata Beliau saat itu

Beberapa kali Bapak bercerita soal bagaimana PKB harus diperbaiki dan tidak boleh dipegang oleh cak Imin. Saat itulah definitif saya memahami bahwa Bapak masih berupaya keras untuk memperjuangkan PKB dari cengkeraman orang-orang yang tak amanah, walau secara de facto Beliau sudah tidak berdaya. Ada beberapa orang PKB Cak Imin yang masih diterima saat menjenguk, tetapi tidak dengan kelompok terdekat Imin

Setelah Bapak wafat pun, ada seorang teman Bapak (sekarang seorang tokoh nasional) yang mengatakan ke saya bahwa ia sedang diminta Gus Dur mencari donasi untuk persiapan Muktamar PKB Gus Dur di tahun 2010. Ia menyerahkan uang yang sudah berhasil dikumpulkannya kepada Ibu. Memang, niat Gus Dur untuk Muktamar sangat kuat, sebagai respons terhadap keputusan MA tentang legalitas PKB yang jatuh ke tangan Cak Imin

Semua pengalaman inilah yang membuat saya ngenes dengan 'tawaran narasi' dari entah siapa di kubu PKB Cak Imin. Menyatakan bahwa konflik antara PKB Cak Imin dengan Gus Dur adalah rekayasa, bagi saya sama saja dengan menghina Bapak dengan amat sangat

Seorang Gus Dur, sekuat apapun seajaib apapun, tak akan mampu merekayasa kondisi fisiknya. Menyatakan bahwa konflik ini adalah rekayasa Gus Dur, adalah sama dengan menyatakan bahwa Gus Dur gila. Itu berarti menyatakan bahwa Bapak merekayasa konflik untuk strategi politik, lalu terkena sendiri dampak fisik dari permainannya, sehingga bahkan harus tinggal di Rumah Sakit

Seorang Gus Dur tak mungkin mempermainkan mekanisme hukum sampai di Mahkamah Agung untuk mendapatkan kejelasan hukum mengenai partainya, hanya demi rekayasa. Gus Dur adalah pejuang demokrasi, yang setia dengan prinsip keadilan dan pembebasan. Mereka yang percaya bahwa Bapak merekayasa konflik sampai memanfaatkan proses demokrasi hukum, sama saja percaya bahwa Gus Dur bukan pejuang demokrasi sejati. Ia dianggap sama dengan mereka-mereka yang memanfaatkan hukum untuk kepentingan kekuasaan. Bagi saya, ini adalah penghinaan besar bagi perjuangan dan karakter Gus Dur

Rekayasa macam mana yang membuat rombongan Cak Imin melakukan sujud syukur di Mahkamah Agung setelah pengumuman keputusan MA itu? Menyelenggarakan tumpengan di kantornya? Sedemikian pentingnya bagi Gus Dur bersama Cak Imin membohongi rakyat dengan melakukan hal-hal itu, agar rakyat percaya ini konflik betulan padahal rekayasa? Sekali lagi, itu sama saja dengan menyatakan Gus Dur bukan pemimpin rakyat

Bagi saya, Bapak bukan itu semua. Dalam hal konflik dengan PKB Cak Imin, acuan saya hanya apa yang saya lihat dan saya dengar dari Bapak langsung. Bukan apa kata dan analisis orang. Apalagi orang-orang yang punya track-record dan karakter yang tak bisa saya percayai

Hanya karena ingin mendapatkan dukungan dari pecinta Gus Dur, tega sekali orang-orang ini menyebarkan narasi yang justru menghina karakter Gus Dur, tega sekali menjual nama Gus Dur sedemikian rupa hanya untuk kepentingan kekuasaan sesaat yang tentu saja tak bisa dibawa mati

Padahal, sejatinya mudah mendapatkan dukungan pecinta Gus Dur. Kalau memang mengaku sebagai penerus Gus Dur, jalani saja apa yang selama ini diteladankan Gus Dur: integritas terhadap nilai-nilai dasar Gus Dur, demi umat. Tunjukkan bahwa mereka berjuang berlandaskan prinsip Ketauhidan, Kemanusiaan, Keadilan, Kesetaraan, Pembebasan, Persaudaraan. Tunjukkan bahwa mereka punya karakter Sederhana, Sikap Ksatria, dan bertumpu pada Kearifan Tradisi. Tunjukkan saja bahwa mereka memang tidak terlibat korupsi, bertindak demi rakyat. Tunjukkan saja pembelaan kepada semua kaum minoritas yang akhir-akhir ini makin muram nasibnya di Indonesia. Itu cukup untuk mengambil hati rakyat

Tak perlu klaim ini-itu, apalagi klaim yang justru menghina Bapak saya. Sebagai seorang anak, saya sungguh-sungguh kecewa pada mereka, yang tega melakukannya dan tega untuk percaya bahwa masih banyak rakyat yang masih bodoh dan bisa dibohongi. Sesuatu yang jauh dari apa yang diajarkan Bapak saya sepanjang hidupnya

By: Lay Cao Lay

Bagaimana Modus Wakil Rakyat Tilap Uang Kunker ke Maroko

Bagaimana Modus Wakil Rakyat Tilap Uang Kunker ke Maroko
Dalam artikel ini saya ingin membagikan info teraktual mengenai Bagaimana Modus Wakil Rakyat Tilap Uang Kunker ke Maroko

Kabar terdahsyat kembali datang dari Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, dimana beliau pernah menelanjangi rekannya di parlemen yang melakukan korupsi sewaktu beliau masih menjadi anggota DPR Komisi II dari Fraksi Golkar dan melalui laporan kinerja bertajuk Satu Tahun Ber-DPR, dirinya mengungkap banyak fakta menarik tentang tingkah polah para wakil rakyat di Senayan

Dalam laporan tersebut, Ahok menceritakan pengalaman kunjungan kerja ke Maroko pada akhir September 2010, dimana beliau ikut sebagai anggota delegasi Grup Kerja Sama Bilateral (GKSB) DPR dan Parlemen Maroko dan kunjungan tersebut menjadi pengalaman pertama beliau menggunakan paspor dinas berwarna biru

"Yang membuat saya gundah, rupanya dalam perjalanan itu juga ada acara ke Spanyol," ungkap Ahok di Hotel Santika, Slipi, Jakarta Selatan beberapa waktu lalu

Ahok merasa perjalanan ke Spanyol tersebut bukan lagi bagian dari agenda kerja sama bilateral

"Toh, terdapat tim lain yang berangkat ke sana," lanjut pria kelahiran Belitung Timur, 29 Juni 1966 tersebut

Saat itu turut hadir peneliti senior CSIS J. Kristiadi, Koordinator Formappi Sebastian Salang, Koordinator ICW Danang Widoyoko serta pengamat politik dan kebijakan publik UI Andrinof Chaniago. Tim yang terdiri atas enam anggota DPR tersebut akhirnya berangkat pada 24 September 2010 dan menurut Ahok, semua acara seharusnya sudah selesai pada 27 September sore. HAl tersebut berarti mereka bisa kembali ke Indonesia keesokan harinya, namun anggota rombongan yang lain nekat ingin pelesiran ke Spanyol

"Dalam jadwal acara tidak ditulis ke Spanyol. Cuma sampai 29 September, dibuat seolah-olah masih di Maroko kegiatannya dan ditulis pukul 13.20 berangkat dari Casablanca (lokasi bandara internasional Maroko, Red) menuju Jakarta," jelas Ahok

Yang keterlaluan, lanjut Ahok, para anggota rombongan yang pelesiran ke Spanyol tersebut tetap menerima tambahan uang saku perjalanan, dimana di Maroko setiap anggota dihitung USD 200/hari, termasuk hotel dan untuk ke Spanyol, jatahnya menjadi dua kali lipat, yakni USD 400/hari. Saat itu Ahok memutuskan untuk tetap pulang ke tanah air pada 28 September 2010 dan meski di Maroko selama lima hari, dia hanya mau menerima uang saku selama empat hari

"Perdiem saya di Maroko, setelah dipotong ini itu adalah USD 685," lanjut Ahok

Bila dihitung USD 1 sama dengan Rp 9.000, USD 685 adalah sekitar Rp 6.165.000,-. Sebelumnya, beliau bahkan ditawari menerima uang saku penuh selama tujuh hari, meski tidak ikut jalan-jalan ke Spanyol

"Tentu saya menolak hal itu dan meminta apa yang menjadi hak saya saja," ungkap mantan bupati Belitung Timur (periode 2005–2010) tersebut

Selaku anggota DPR komisi II, agenda kunjungan kerjanya pertamanya adalah ke Palu, Sulawesi Tengah dan seperti biasa, seluruh anggota rombongan mendapatkan biaya sistem lumpsum yang diatur staf sekretariat, mulai dari uang tiket, uang saku, uang hotel hingga uang transportasi dihitung dengan standar tertinggi serta termahal di kota yang akan dikunjungi

Beberapa hari menjelang keberangkatan, staf komisi memberikan alternatif, yaitu dibelikan tiket pesawat kelas eksekutif atau ekonomi

"Karena berpikir semua untuk penghematan dan kesetiakawanan, saya ikut ekonomi. Ternyata saya malah diberi selisih sisa uang dari tiket untuk eksekutif yang dibelikan untuk ekonomi," kata pemilik nama Tinghoa Zhong Wan Xie tersebut sambil tersenyum

Ahok menyatakan tidak tenang karena merasa ada etika yang dilanggar, dimana dari sisi penghematan uang negara, dia setuju kalau perjalanan dinas anggota dewan sebaiknya menggunakan tiket pesawat ekonomi, namun ketika uang yang dianggarkan tetap berstandar kelas eksekutif dan selisih uang tiketnya masih dikembalikan kepada anggota, justru tidak ada penghematan uang rakyat

"Justru anggota dewan yang untung karena mendapatkan penghasilan tambahan. Apakah ini dilaporkan dalam SPT (surat pemberitahuan) pajak?" lanjut Ahok

Dalam kunjungan ke Palu itu, bupati setempat juga ingin membayar uang penginapan

"Saya menolak ini dan sempat membuat suasana menjadi tidak nyaman," ungkap Ahok

Selama setahun di DPR, Ahok mengungkapkan bahwa dirinya melihat banyak contoh nyata mengenai permainan dalam penggunaan anggaran negara, mulai dari permainan jumlah hari perjalanan dan rapat, perubahan tiket perjalanan, adanya dana taktis dalam berbagai kunjungan hingga pemberian honorarium maupun pembiayaan pembahasan RUU yang seringkali tidak transparan, ditambah lagi dengan pengambilan kelebihan uang reses, peningkatan uang kunjungan secara diam-diam dan tidak jelasnya potongan pajak penghasilan DPR

"Memang ini tidak bermasalah dari sisi legalitas. Tetapi, secara etika sangat patut dipertanyakan karena penghambur-hamburan uang rakyat," tegas Ahok

Menurut Ahok, jika anggota dewan sudah terbiasa menilap uang kecil, fungsi pengawasan terhadap kementerian pasti akan kedodoran

"Otomatis prinsipnya kamu ambil punya kamu, saya ambil punya saya," sindir Ahok

Selain mengingatkan langsung, Ahok sudah melaporkan hal tersebut ke Badan Kehormatan (BK) DPR, namun belum ada tindak lanjut laporan tersebut hingga saat ini. Ahok selanjutnya menambahkan bahwa praktik bagi-bagi uang juga lazim terjadi di komisi DPR, namun Ahok menyatakan belum pernah menemukannya secara langsung

"Mungkin karena tahu saya begini, saya nggak pernah ditawari. Perjalanan saja nggak mau nilep, apalagi bagi-bagi begitu," tutup Ahok sambil tertawa

By: Lay Cao Lay